
Allah Tu(h)an Semesta Alam dalam mencipta dan memelihara makhluk ciptaan-Nya. Mempunyai aturan-aturan (hukum) yang bersifat mutlak dan tidak bisa berubah sedikitpun.
"Maka Hadapkanlah wajahmu lurus dengan lurus kepada Dien (Islam);(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu . Tidak ada perubahaban pada ciptaan Allah. (itulah) Dien yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Ar-Rum : 30)
"Sebagai suatu Sunnatullah (hukum) yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi Sunnatullah (hukum) itu. (QS.Al-Fath :23)
Dari firman di atas sudah sangat jelas bahwa segala sesuatu di Alam Semesta ini. Allah ciptakan berdasarkan fitrah yang sudah Allah tetapkan. Fitrah disini bukan berbicara tentang suci tetapi Fitrah adalah design awal penciptaan. Berarti setiap makhluk di Alam Semesta termasuk manusia. Ada aturan baku dalam proses penciptaan. Dimana aturan baku dalam mencipta dan memelihara segala makhluk ciptaannya tidak ada perubahannya. Itulah Dien (pola fikir) yang lurus dan kebanyakan manusia tidak memahami tentang pola fikir seperti ini. Setelah kita mengerti prinsip (karakter) dari Allah dalam mencipta dan memelihara segala makhluk ciptaan-Nya. Maka kita akan memahami tentang makna sebenarnya tentang kisah Adam yang tertulis di dalam kitab-kitab Allah.
Menurut kebanyakan manusia Adam terlahir dari tanah liat yang dibentuk Allah menjadi sebuah boneka. Kemudian Allah meniupkan roh ( nyawa) ke dalam boneka itu kemudian boneka itu hidup dan Allah menamainya Adam. Kisah seperti ini yang harus kita cerdas dalam memahami dan memaknainya. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam tafsir (pemahaman) yang sesat yaitu pemahaman yang tidak ada dasar Ilmunya dan pastinya bertentangan dengan Ilmu. Di dalam Kitab Allah telah mengabadikan kisah Adam dengan bahasa yang sangat cantik dan penuh dengan pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
“Ingatlah ketika Tu(h)anmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tu(h)an berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah : 30)
Pada ayat di atas Allah mengatakan : Inniy Jaa’ilu fil Ardhi Kholifah- Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Kholifah di bumi. Di sini yang menjadi kata kunci adalah Jaa’ilun sebagai isim faail (kata kerja) dari –ja’ala-; di ayat tersebut Allah tidak menggunakan kata –kholaqo- . Secara bahasa kholaqo memiliki arti yang jauh berbeda dengan ja’ala. Ja’ala berarti –mengangkat,menjadikan dan memfungsikan- sedang kholaqo berarti –menciptakan-. Menurut logika Al-Qur’an, kholaqo –berasal dari sesuatu yang tidak ada-, sedang ja’ala berasal dari sesuatu yang –sudah ada,hanya saja belum difungsikan-.
“Apakah manusia tidak berpikir, sungguh Kami telah menciptakannya sedang dahulu tidak ada sama sekali ? (QS. Maryam : 67)
Pada Surat Al-Baqarah: 30 di atas, Allah memakai kata ja’ala yang bermakna Allah-mengangkat seorang Kholifah atau Penguasa-. Atas rencana Allah ini, Malaikat menyatakan keberatan: “Ya Allah, akankah Engkau mengangkat seorang Kholifah di Bumi itu dari kelompok manusia yang selalu berbuat kerusakan dan menumpahkan darah? Sedang kami selalu beraktivitas dengan memuliakan-Mu dan mengkuduskan-Mu.” Dari protesnya Malaikat ini,kita bisa menangkap bahwa waktu itu para Malaikat –telah melihat- kebiasaan manusia yang suka berbuat kerusakan dan berperang. Akan tetapi, Allah menjawab: “Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Di dalam Taurat (Perjanjian Lama) juga ada ayat yang mengindikasikan bahwa Adam bukan manusia pertama.
“Kata Kain kepada TU(H)AN : “Hukumanku itu lebih besar dari pada yang dapat kutanggung. Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapanMu, seorang pelarian dan pengembara di bumi; maka barang siapa yang akan bertemu dengan aku , tentulah akan membunuh aku . Firman TU(H)AN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TU(H)AN menaruh tanda pada Kain supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dia. Lalu Kain pergi dari hadapan TU(H)AN dan ia menetap di tanah Nod di sebelah timur Eden. (Kejadian 4 : 13-16)
Dari firman di atas kita teringat Kisah Habel (Habil) dan Kain (Qoin) Anak dari Nabi Adam. Dikisahkan bahwa Kain membunuh saudaranya Habel dan kejadian ini diketahui oleh Tu(h)an. Maka sebagi hukumannya Kain diusir dari tempat tinggal di bumi (taman Eden). Dari firman di atas kita melihat kekhawatiran Kain ketika keluar dari tempat tinggalnya semula mengembara sendirian di Bumi. Ketakutannya adalah Jika dia bertemu dengan orang lain yang ridak mengenal dia. Dia (Kain) takut jika akan dibunuh oleh orang lain yang pastinya juga manusia.
Berarti sebenarnya ketika Adam dan keluarganya hidup di dunia ini sudah ada kelompok-kelompok manusia yang lain. Dari beberapa kelompok manusia tersebut Adamlah yang Allah pilih sebagai seorang Kholifah (Penguasa). Yang memiliki tugas amanah untuk menyatukan umat manusia yang suka berperang. Oleh sebab itu Allah membimbing Adam dan mengajarkan isme-isme segala sesuatu yang terdapat 99 (As-Ma’ul Husna). Allah mengajarkan tentang sifat-sifat-Nya yang berlaku pada Alam Semesta. Adam diajarkan ilmu tentang system nilai yang berlaku pada Alam materi dan social manusia yaitu Ilmu tentang Dien (hokum/tatanan hidup dan kehidupan) ditransfer ke dalam kehidupan manusia. Sehingga dikatakan Adam sebagai potret dari Allah Tu(h)an Semesta Alam.
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam isme-isme seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat dan berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku isme itu jika kamu memang orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah: 31-32)
“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara da atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. (Kejadian 1:26).
Jadi kisah Adam di dalam Al-Kitab bukan membicarakan tentang kemunculan manusia yang pertama. Tetap kisah tentang pengangkatan seorang anak manusia menjadi Kholifah sebagai mandatarisnya Allah di bumi. Untuk mengatur dan memakmurkan bumi beserta makhluk yang hidup di bumi ini (Rahmat Semesta Alam).
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah Siapakah manusia pertama di bumi ini ? Memang di dalam Al-Kitab (Taurat,Injil,Al-Qur’an) tidak Allah jelaskan secara detail asal-usul manusia. Karena jika dijelaskan terlalu detail maka bisa kita bayangkan setebal apa Al-Kitab(Taurat,Injil,Al-Qur’an) itu. Allah hanya memberikan gambaran tentang proses munculnya berbagai ras manusia yang berkelompok-kelompok maupun berbangsa-bangsa.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.Al-Hujurat:13).
Berarti asal usul manusia bukan dari tanah liat yang dibentuk menjadi boneka kemudian ditiupkn Roh (nyawa) hidup. Jadi manusia itu berasal dari dua sepasang manusia yang berbeda jenis. Secara singkat ceritanya adalah mulanya Allah menciptakan manusia sepasang-sepasang yang masing-masing menjadi nenek moyang ketiga ras di dunia. Ras Mongoloid sepasang, Ras Negroid sepasang, Ras Arya sepasang, dan seterusnya menurut jumlah ras yang ada di bumi. Dari tiap-tipa pasang ini kemudian berkembangbiak dalam jumlah yang sangat besar. Maka bumipun dipenuhi oleh manusia-manusia dari berbagai suku,bangsa, dan warna kulitnya. Maka batallah persangkaan yang menyatakan manusia berasal dari satu orang.
Akhir cerita disini kami mengajak para Sahabat untuk lebih menggunakan akal fikiran dan Ilmu Pengetahuan secara aplikatif bukan hanya teori. Karena sekali lagi yang namanya Kebenaran hanya ada satu dan bersumber dari Allah Tu(h)an Semesta Alam.